Browse By

Terpikat Kebersihan Kota Pontianak

Pontianak – Kebersihan di Kota Pontianak tersiar hingga ke daerah lainnya. Hal itu menjadi daya tarik bagi rombongan peserta Diklatpim Tingkat IV Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI angkatan II tahun 2016 untuk melakukan studi lapangan di Kota Pontianak. Peserta Diklatpim yang sebagian besar pejabat eselon IV dari Kota Bandung, dan sebagian lagi dari Bangka Belitung dan BPOM, berjumlah 40 orang diterima Wali Kota Pontianak, Sutarmidji di ruang rapat Kantor Walikota, Senin (29/8).
Ketua rombongan Diklatpim IV LAN RI, Eny Iriani mengatakan, dipilihnya Pontianak sebagai tempat studi lapangan lantaran kota ini memiliki nilai lebih. Diakuinya, sebelumnya pihaknya mencari informasi dari beberapa kota yang ada dan Pontianak menjadi pilihan untuk studi banding peserta Diklatpim IV.
“Apalagi, Pontianak tidak sedikit meraih award atau penghargaan yang notabene tidak diperoleh Kota Bandung. Salah satunya, terkait kebersihan kota yang saya nilai Pontianak selangkah lebih maju dari Bandung,” ujarnya.
Menurutnya, dari sisi kebersihan, Pontianak bisa menjadi contoh bagi daerah lainnya bagaimana menangani kebersihan. Oleh sebab itu, kata Eny, studi lapangan peserta Diklatpim ini tidak hanya mempelajari dari permukaan saja tetapi bagaimana Pontianak mempertahankan kebersihan itu.
Diakuinya masalah kebersihan tidak terlepas dari kesadaran masyarakat itu sendiri dalam menjaga kotanya tetap bersih.
“Di bawah kepemimpinan Bapak Wali Kota Sutarmidji, Pontianak sudah mulai terbangun tingkat kesadaran masyarakatnya dengan menerapkan aturan-aturan yang tegas,” tuturnya.
Selain itu, tujuan dari studi banding ini untuk menggali informasi dan mempelajari keberhasilan-keberhasilan yang dicapai Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak. Studi banding atau benchmarking ini kaitannya dengan bagaimana mengamati keberhasilan sebuah daerah, meniru dan memodifikasi untuk kepentingan perubahan-perubahan di instansi masing-masing.
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji menuturkan, masing-masing kota punya keunggulan dan keberhasilan. Misalnya, Bandung dikenal sebagai kota kreatif dan sebagainya, demikian pula Kota Pontianak dengan keunggulan tersendiri. Pontianak dikenal konsisten dalam penegakkan aturan meskipun jumlah aparatur Satpol PP sangat terbatas. Namun dengan jumlah minim, kinerja Satpol PP lebih efektif. Selain itu, Pontianak memiliki jumlah inovasi yang banyak sehingga menjadi kota dengan standar layanan publik terbaik se-Indonesia.
“Kuncinya, program itu harus diwujudkan dan ada parameter untuk mewujudkan itu,” katanya.
Diakuinya, tidak pula Pontianak lebih baik semuanya, masih perlu banyak mencontoh daerah-daerah lainnya. Studi lapangan ini memberi pemahaman yang lebih luas bagi para pejabat di pemerintah daerah masing-masing.
“Kalau semua kelebihan-kelebihan yang dimiliki seluruh daerah bisa dikombinasikan, negara ini akan menjadi luar biasa kemajuannya. Itulah pentingnya studi lapangan ini,” imbuhnya.
Dijelaskannya, dengan saling bertukar informasi dan sharing antar daerah, maka akan menjadikan masing-masing daerah lebih baik. Misalnya, Bandung dengan kelebihannya, Pontianak bisa menirunya, demikian sebaliknya Pontianak dengan keunggulannya bisa ditiru oleh Bandung, tak terkecuali kota-kota lainnya.
“Setiap yang baik dari daerah-daerah itu bisa diduplikasi, kan lebih baik. Itu yang sebenarnya bisa kita lakukan,” pungkasnya. (wti)