Browse By

Tiga Pengelola THM Mengadu ke DPRD, Ratusan Pekerja Terancam Menganggur

Warta Volare Edisi 6 Maret 2015

Pontianak – Tiga pengelola tempat hiburan malam (THM) di Kota Pontianak, yaitu River X Hotel Aston, Red Kaisar dan Rain mendatangi DPRD Kota Pontianak meminta perlakukan adil dalam pengelolaan THM, Jumat (6/3)..

Pengelola THM diterima langsung oleh Komisi A DPRD Kota Pontianak yang dipimpin oleh Ardiansyah dan sejumlah anggota.

Pemilik PHM ini pun langsung menumpahkan keberatannya kepada keputusan penutupan kepolisian tersebut.

Pengelola River X Hotel Aston, Edi Khiong, menjelaskan bahwa tuduhan kepolisian tersebut tidak benar, mengingat bukan pegawainya yang positif narkoba tetapi salah seorang pengujung.

Izin keramaian yang dicabut otomatis membuat operasional tiga THM ini tidak berjalan hingga waktu yang tidak ditentukan. Padahal, jika THM tersebut tidak buka, otomatis ratusan pegawai di tiga tempat hiburan malam itu terancam menganggur.

Edi juga menegaskan pihaknya dengan keras menolak tempat hiburan malam menjadi ajang narkoba maupun tempat prostitusi. Ia mengakui, meskipun pihaknya menyediakan pemandu lagu untuk setiap tamu, bukan berarti pihaknya menyediakan tempat mesum.

“Kita mendukung langkah pemerintah memberantas narkoba dan prostitusi tetapi kita tegaskan, kami, tempat kami tidak menyediakan narkoba dan prostitusi,” tegas dia.

Ia pun meminta penutupan tiga THM ditinjau kembali karena banyak pegawai dan staf karyawan yang terpaksa tidak bekerja.

Untuk itu, pihaknya pun mulai berbenah dalam mengembalikan kepercayaan masyarakat, pemerintah dan kepolisian. Pengelola sepakat akan taat aturan pemerintah.

“Kita akan mengikuti jam operasional yang ditentukan pemerintah pukul 24.00 WIB. Kita mendukung pemberantasan narkoba dan men-stop pemutaran lagu-lagu hause music,” ujarnya,

Ia pun meminta keadilan yang sama untuk seluruh THM yang ada di Kota Pontianak dalam menerapkan kebijakan pemerintah dana kepolisian ini.

“Kita minta seluruh THM ikut aturan. Tidak ada tebang pilih tapi semua sama dalam mengikuti aturan yang ada,” pinta Edi yang diaminkan Oon pengelola THM Red Kaisar dan Iwan pengelola THM Rain.

Sementara Komis A DPRD Kota Pontianak merespon kedatangan tiga pengelola THM ini. Komisi A lewat Ardiansyah membuat tiga rekomendasi yang nantinya akan diajukan kepada Kapolda Kalbar.

Rekomendasi yang pertama adalah THM itu tidak akan dijadikan ajang narkoba. Kedua, jam operasional yang sudah ditentukan pemerintah harus dipatuhi dan ke tiga tidak menjual minol tanpa izin.

“Kita harus akui, lima pajak yang menjadi primadona adalah THM ini, makanya sebisa mungkin tindakan persuasif harus dilakukan jika bermasalah. Tidak main tutup, harus ada jenjang dan prosesnya. Kita minta THM ini mengikuti rekomendasi yang kita buat ini,” pinta pria yang baru menyelesaikan S2-nya ini.

Diakuinya, jika bicara narkoba dan prostitusi, bukan hanya THM saja tapi bisa terjadi di banyak tempat, hotel, rumah kost maupun tempat lain.

“Jika ada THM yang menjadi tempat mesum tindak saja pelakunya dan itu harus prosedur. Ada ribuan tenaga kerja di Kota Pontianak yang bergantung pada THM ini. Pertanyaannya, apakah jika ada satu yang norkoba ratusan pekerja lainnya dikorbankan. Jika ada nyamuk dalam kelambu, apakah kelambunya yang dibuang, tentu nyamuknya,” kata dia berumpama.

Sementara BP2T Kota Pontianak akan segera mendatangi kepolisian untuk menegceka langsung penutuapn tersbeut.

“Kita ada prosedurnya. Tindakan kita tidak sampai penutupan total tapi penutupan sementara dan lalu kita beri pembinaan,” ucapnya. (sis)