Browse By

Tuntaskan Permasalahan Drainase Kota

Pontianak – Sebelum masa jabatannya berakhir, Walikota Pontianak, Sutarmidji akan menuntaskan permasalahan drainase di Kota Pontianak. Pihaknya sudah memetakan titik-titik bermasalah dan penanganannya tengah dilakukan. Peninggian jalan akan dilakukan, di antaranya Jalan S Parman yang harus ditinggikan 20-30 sentimeter. Kawasan itu merupakan cekungan sehingga jika tak ditinggikan, akan terus tergenang. Tingginya pun harus lebih dari Jalan A Yani. Menurutnya, sedikitnya ada lima hingga tujuh daerah cekungan yang harus dituntaskan. Sejak awal pemerintahannya, kurang lebih 20 cekungan selesai diatasi. Misalnya daerah Jalan HM Suwignyo dan Kota Baru.

“Daerah yang tinggi di Pontianak ini sebagian besar daerah Tenggara, sedikit Selatan setelah itu cekungan. Yang sulit penanganannya adalah daerah Podomoro, Putri Daranante dan Putri Dara Hitam. Ini disebabkan saluran di Gang Cimahi sampai ke daerah Merdeka,” ujarnya, Selasa (25/4).

Jalan Tabrani Ahmad diyakininya tidak akan banjir seandainya saluran di Jalan Ampera dan Jalan Tebu tidak terhambat. Sekarang, terlalu banyak jembatan berada di atas parit itu. Pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin merestorasi drainase yang ditutup.

“Kita fatal ketika kebijakan lama menutup saluran primer yang ada di Jalan Sudirman. Kemudian di Jalan Kapten Marsan (Kapuas Indah) yang sudah tertutup. Satu-satunya jalan, depan toko harus ada saluran minimal selebar 1,5 meter. Baru itu tidak banjir. Kalau tidak, masih bisa banjir,” katanya.

Permasalahan drainase memang cukup kompleks. Misalnya terkait luas parit. Saluran di daerah Jalan Gajah Mada harus diperlebar untuk mengimbangi jangan sampai semua aliran air lari ke parit Diponegoro. Sebab Parit Diponegoro lebih kecil dari Parit Besar. Parit di Jalan Gusti Sulung Lelanang (Cemara) juga tidak ideal karena terlalu kecil. Padahal hampir semua aliran mengarah ke sana.

“Sehingga kita upayakan juga air dari arah Podomoro bisa langsung ke Sungai Jawi dan lain sebagainya. Saya berharap pusat atau provinsi bisa melakukan normalisasi parit sungai Jawi sebab menjadi tanggung jawab mereka. Apalagi Pemkot sudah membantu dengan membuat jalan inspeksi meskipun bukan menjadi tugas Pemkot namun harus dikerjakan sebab selama ini tidak pernah diperhatikan,” harapnya.

Pendangkalan di Sungai Jawi sudah mengkhawatirkan. Normalisasi harus segera dilakukan. Tapi kewenangannya ada di Pemerintahan Provinsi lantaran merupakan aliran primer. Wali Kota dua periode ini berharap masyarakat turut serta dalam pembangunan. Seperti di Jalan Gajah Mada depan Bank Pasar Komplek Pasar Flamboyan, ada sebuah ruko yang sedikit membelok, harusnya dibongkar sebab terlalu mepet ke turap.

“Meskipun sesuai aturan lima meter dari turap, saya minta yang bersangkutan cukup 2 atau 3 meter saja mundur supaya saluran itu bisa diluruskan. Kalau saluran berbelok-belok, arus air tidak selancar saluran yang lurus,” pintanya.

Sisa jabatannya memang akan difokuskan untuk perbaikan drainase baik tersier, sekunder, maupun sebagian primer. Walaupun primer menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Karenanya, perlu sinergi dengan masyarakat. Hingga kini, Parit Tokaya masih jadi kawasan yang macet salurannya. Normalisasi harus dilakukan bersama penurapan. Sayangnya, pemerintah pusat hanya mengucurkan dana Rp9 miliar. Diperkirakan hanya bisa menyelesaikan sepanjang 200 meter.

“Kalau kiri-kanan berarti hanya 100 meter maju. Saya minta juga kepada Dinas PU tempatkan dua petugas di situ untuk mengambil sampah-sampah yang ada di parit itu karena pengerjaan pemasangan turap banyak sampah yang tersebar. Kalau dapat dipasang jaring di area Purnama,” serunya. (Wati Susilawati)

Simak Warta Volare setiap Senin-Jum’at pukul 12.00 dan 15.55. Simak pula Warta Volare Weekend setiap Sabtu pukul 07.00 di Volare 103.4 FM