Browse By

Walikota Pontianak Sampaikan Keprihatinan

Pontianak – Walikota Pontianak Sutarmidji menyampaikan keprihatinannya atas kasus ledakan bom di Samarinda dan Singkawang. Untuk itu, dia meminta semua pihak perlu meningkatkan kewaspadaan. Terutama di lingkungan RT, para Ketua RT dimintanya harus peduli dengan lingkungannya.

“Kalau di situ 1×24 jam atau 2×24 jam tamu harus lapor dengan RT dan kalau tidak lapor, segera suruh keluar orang tersebut dari RT bersangkutan,” tegasnya.

Terkait maraknya orang asing seperti yang baru-baru ini terjadi dengan dideportasinya 3 warga negara asing asal Tiongkok. Hal itu, dikatakan dia, bisa terjadi lantaran RT-nya tidak peduli. Justru masyarakat yang melapor ke pihaknya.

“Masyarakat lapor ke kita, RT malah menganggap warga asing itu tidak melakukan pelanggaran apa-apa. Oknum RT yang cenderung melindungi orang asing itu. Mestinya laporkan kalau ada orang asing di lingkungannya,” kesalnya.

Demikian pula para pemilik kos maupun penghuni kos, harus melapor ke RT setempat. Dirinya akan menindak tegas para pemilik rumah kos tanpa memandang siapapun dia. Apabila ditemukan ada pelanggaran-pelanggaran di rumah kos miliknya, maka rumah kos itu ditutup dan tidak boleh beroperasi lagi.

“Kalau masih beroperasi, kita akan ajukan pengadilan, dan saya minta hakim memberi efek jera kepada para pelanggar peraturan daerah (perda) ini,” tukas Walikota.

Ia tak ingin pelanggar perda itu didenda dengan hanya senilai Rp 20 ribu, 25 ribu atau 50 ribu sehingga tidak memberi efek jera bagi mereka yang dijatuhi sanksi tindak pidana ringan (tipiring). Sutarmidji meminta, hakim yang memutuskan sanksi hendaknya mempertimbangkan supaya sanksi yang dijatuhkan kepada pelanggar perda itu memberi efek jera dan tidak mengulangi perbuatannya.

“Supaya Pak Hakim pun tidak terlalu banyak menyidang para pelanggar Perda. Kalau perlu yang bandel-bandel itu, jatuhkan saja sanksi tipiring Rp 5 – 10 juta biar mereka kapok,” usulnya.

Selaku kepala daerah, dirinya menyadari keprihatinan semua umat, dan ia yakin semua pemeluk agama apapun turut prihatin dengan beberapa kejadian akhir-akhir ini. Sutarmidji berharap, hendaknya kejadian-kejadian itu dijadikan sebagai media untuk semakin saling memahami antara kondisi satu dengan yang lain.

Ia juga berharap, tidak ada provokasi-provokasi  apapun di Kota Pontianak. Masyarakat diminta melihat berita-berita di media sosial secara utuh. Dirinya meminta, media pemberitaan tidak memberitakan sepotong-sepotong, tetapi harus jelas dan lengkap supaya masyarakat tidak salah dalam menafsirkannya.

“Jangan memenggal suatu wawancara sehingga artinya tidak utuh. Masyarakat jangan terlalu cepat percaya apa yang dimuat di media sosial karena bisa saja itu sudah diedit atau potongan-potongan wawancara atau karangan sendiri  dengan akun-akun fiktif,” katanya.

Sutarmidji menambahkan, perbedaan etnis, perbedaan ajaran agama yang dianut, bukan berarti tidak bisa saling menyayangi, tidak bisa saling menghormati. Perbedaan itu bukan untuk permusuhan atau mencari pertentangan, melainkan untuk saling menghormati.

“Kalau semuanya berpijak pada saling menghormati, maka saya yakin tidak akan ada gesekan-gesekan apapun. Kita lakukan kehidupan yang kita jalani di muka bumi ini dengan nyaman supaya kita mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat,” imbuhnya.

Ia juga mendukung aparat keamanan untuk menindak tegas siapapun yang membuat ketidaknyamanan di Kota Pontianak. Iklim yang kondusif harus tetap terjaga untuk keberlanjutan pembangunan kota. (Wati Susilawati)