Browse By

Walikota Resmikan SMPN 13 dan SDN 56

Pontianak – Hanya dalam tempo 7 bulan, Gedung SMPN 13 yang terletak di Jalan Tebu Kelurahan Sungai Beliung Kecamatan Pontianak Barat rampung dan siap ditempati untuk kegiatan belajar mengajar. Gedung berlantai tiga tersebut diresmikan Direktur Pembinaan SMP Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Supriano dan Walikota Pontianak, Sutarmidji dengan penandatanganan prasasti di halaman SMPN 13, Sabtu (20/8). Selain SMPN 13, gedung SDN 56 yang terletak di Jalan Kom Yos Sudarso Kecamatan Pontianak Barat juga diresmikan secara simbolis di tempat yang sama.
Acara peresmian kedua gedung sekolah itu dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran DPRD Kota Pontianak, jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkot, guru dan siswa-siswa beserta orang tua siswa. Walikota Pontianak, Sutarmidji mengingatkan kepada kepala sekolah, guru dan siswa-siswa yang gedungnya baru diresmikan ini supaya tetap menjaga dan merawat sekolah beserta isinya dengan sebaik-baiknya. Bahkan, ia mengancam akan menerapkan sanksi bagi siswa yang merusak atau mencoret-coret meja-kursi maupun dinding sekolah.
“Saya akan lihat dua bulan pertama, siapa yang meja kursinya ada coretan akan kita denda. Kursi dan meja itu dibeli dengan harga yang tidak murah. Saya minta kepada anak-anak, jaga sekolah jangan sampai ada coretan,” ujarnya.
Ia menjanjikan bagi kelas-kelas yang paling bersih, dirinya akan menyediakan pendingin udara atau Air Conditioner (AC) di ruangan kelas tersebut. Namun untuk pembayaran listrik khusus ruang kelas yang dipasang AC, dibebankan kepada siswa-siswa di kelas itu. Untuk itu, masing-masing kelas yang ber-AC akan dipasang meteran listrik sistem voucher. Sebut saja, tiap siswa mengumpulkan masing-masing Rp 50 per hari yang dikoordinir ketua kelas, bila jumlah siswa sebanyak 30 orang maka per harinya akan terkumpul Rp 1.500 dan dalam sebulan cukup untuk membeli voucher listrik bagi kelas mereka. Hal itu diterapkannya untuk mengajarkan siswa-siswa dalam mengelola kelasnya masing-masing.
“Supaya ada kenyamanan dan menejlah kelas dengan baik supaya ketika kalian menjadi pemimpin sudah terbiasa,” tutur Sutarmidji.
Tahun 2016 ini, pihaknya segera merealisasikan seluruh kantin sehat yang ada di sekolah-sekolah. Kantin yang sudah ada bangunan resmi, pelaku usahanya akan diberi Izin UMKM supaya mereka bisa mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) di perbankan. Namun ia meminta para pelaku usaha kantin-kantin sekolah supaya menjaga kebersihan makanan atau jajanan yang dijualnya serta tidak mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan.
“Ada salah satu kantin di salah satu SMA, saya perintahkan keluar dan tidak boleh berjualan di sana karena menggunakan kembali es batu bekas digunakan orang lain. Jangankan penjualnya, kepala sekolahnya langsung saya ganti. Saya tidak mau alasan apapun karena itu fatal,” tegas Wali Kota.
Direktur Pembinaan SMP Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Supriano menyambut baik kebijakan orang nomor satu di Kota Pontianak itu. Menurutnya, kebijakan siswa-siswa yang menginginkan ruang kelasnya ber-AC untuk membayar voucher listrik yang digunakan kelasnya secara swadaya merupakan bagian dari pendidikan karakter.
“Pendidikan itu tidak bisa sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah, masyarakat pun harus ikut. Tidak ada larangan kalau orang tua ingin memberikan sumbangan bagi kemajuan pendidikan anak-anaknya,” katanya.
Supriano mengaku tertarik dengan terobosan yang dilakukan wali kota terutama terkait kebersihan, kedisiplinan, kerja sama dan gotong royong yang mulai diterapkan di lingkungan sekolah. Semua itu merupakan langkah kongkrit dan bagian dari pendidikan karakter yang tengah gencar dilakukan pemerintah kini.
“Kalau di sekolah ini sudah dimulai menjadi pembiasaan-pembiasaan, Insya Allah anak-anak SMPN 13 ini memiliki budaya karakter yang baik. Apapun bisa tercapai kalau karakter kita sudah baik. Ini yang tengah digalakkan pemerintah untuk memperkuat pendidikan karakter,” jelasnya.
Upaya tersebut dalam rangka pencerdasan anak-anak bangsa khususnya di Pontianak. Ia berharap ini menjadi role model bagi sekolah-sekolah lainnya. Pendidikan karakter, kata Supriano, tidak bisa dilakukan secara instan.
“Pendidikan karakter harus dibiasakan. Setelah dibiasakan, kemudian konsisten. Setelah konsisten, menjadi karakter dan menjadi budaya,” imbuhnya.
Ia juga mengapresiasi mulai digunakannya pembayaran cashless, yakni transaksi non tunai yang menggunakan kartu di kantin SMPN 13 ini. Penerapan ini seiring dengan program pemerintah pusat untuk menggalakkan pembayaran non tunai.
“Satu-satunya saya baru dengar, kantin sekolah menggunakan pembayaran cashless. Ini akan menjadi catatan kami pak, akan kami pantau terus dan kita lihat bagaimana perkembangannya anak-anak menggunakan pembayaran non tunai,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak, Mulyadi mengatakan, pembangunan gedung SMPN 13 menggunakan dana APBD Kota Pontianak dengan pola penganggaran multiyears tahun 2015 dan 2016. “Anggarannya Rp 24 miliar lebih dengan memakan waktu 7 bulan,” paparnya. Bangunan megah ini memiliki jumlah ruang belajar 24 kelas, laboratorium IPA, bahasa dan komputer, ruang tata usaha, ruang guru dan ruang kepala sekolah.
“Serta ruang-ruang penunjang pembelajaran seperti ruang perpustakaan, ruang eksrtakurikuler, UKS dan lapangan olahraga,” pungkasnya. (wti)