Warga Tanjung Hilir Keluhkan Pembangunan Proyek Perumahan

Warta Volare – 26 April 2013

Seorang warga di Tanjung Hilir Pontianak Timur, Phoa Lie Moi mengeluhkan pengerjaan proyek pembangunan komplek perumahan yang ada di sebelah rumahnya. Pasalnya, tinggi tembok yang berdempetan dengan rumahnya itu mencapai 4 meter. Padahal katanya, tinggi standar untuk tembok maksimal 2 meter. 

Tembok pembatas tanah itu kata Moi dikhawatirkan akan roboh dan mengenai rumahnya. Selain itu, akibat pembangunan tersebut, drainase yang ada disekitarnya juga ikut tersumbat. Hal ini menyebabkan genangan air hujan tidak dapat dialirkan dengan baik ke saluran pembuangan.

Hal ini juga dibenarkan Mulya Sari, Putri Phoa Lie Moi itu mengaku sudah melapokan hal ini ke Dinas Tata Kota Pontianak. Namun sampai saat ini belum juga ada tindakan. Selain ke Dinas Tata Kota, dirinya juga pernah mendatangi Satpol PP Kota Pontianak, namun usahanya belum membuahkan hasil.

Mulya mengungkapkan, proyek yang sedang mengerjakan perumahan elit tersebut belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Bangunannya sudah 50 persen kata Mulya, namun pemiliknya berkelit IMB nya sedang dalam tahap pengurusan.

Mulya juga menyayangkan pembangunan yang tidak mengedepankan kelestarian lingkungan tersebut karena saluran pembuangan air di tempatnya menjadi sumbat. Dirinya lah yang paling dirugikan. Menurutnya seluruh saluran limbah perumahan tersebut  bermuara di belakang rumahnya.

Saat akan dikonfirmasi kepada pemiliknya yang diketahui bernama Buntia, yang bersangkutan tidak ada di lokasi proyek.

Sementara Kepala Perwakilan Ombudsman Kalbar Agus Priyadi meminta agar permasalahan ini dilaporkan secara resmi ke Ombudsman. Menurutnya, masalah sengketa tanah dan bangunan memang marak terjadi di Kota Pontianak. Oleh karena itu apabila ada laporan resmi, pihaknya akan membantu untuk mengkomunikasikan hal tersebut kepada Pemkot Pontianak, sesuai dengan tugas pokok Ombudsman, membantu dalam hal pelayanan publik.