Waspadai Dua Faktor Kerusakan Gigi Anak

Warta Volare Edisi 12 Februari 2015

Pontianak – Masalah kesehatan gigi anak menjadi masalah yang kerap dikeluhkan. Seperti diungkapkan drg Triska, Kamis (12/2).

Dokter yang juga Kepala Puskesmas Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara ini mengungkapkan, terkadang para ibu mengabaikan kesehatan gigi sang anak.

“Para ibu umumnya berkata masalah gigi masalah biasa saja, toh akan ada gigi yang baru. Jangan salah, jika sejak awal si anak memiliki kesehatan gigi yang tidak baik akan berdampak kepada kesehatan anak itu sendiri,” katanya.

Triska tidak menakuti. Menurut dia, gigi yang rusak merupakan pintu awal bagi virus atau bakteri jahat masuk ke tubuh.

“Awal makanan masuk diolah di gigi. Kalau giginya tidak baik, pencernaan akan terganggu. Gigi yang terinfeksi akan menyebabkan penyakit lain. Ada sakit di daerah lain padahal penyebabnya ada pada gigi yang terinfeksi,” jelasnya.

Menurut Triska, ada dua penyebab kerusakan gigi berdasarkan keluhan dan pernyataan dokter gigi di Kota Pontianak.

Anak yang mengkonsumsi susu formula atau sufor kata Triska menjadi penyebab paling tinggi kerusakan gigi.

“Sufor¬† itu mengandung gula tinggi sehingga mempengaruhi keasaman gigi. Akibatnya, karies gigi mudah terbentuk dan gigi pun kebanyakan berlubang,” ujarnya.

Kebiasaan buruk anak saat tidur dengan masih menggunakan dot pun menyumbang kerusakan gigi anak lebih cepat.

“Ngedot yang masih dipakai anak itu formulanya tersimpan, sehingga gigi akan tambah berlubang. Nah jika demikian, tindakan harus dilakukan, apakah akan ditambal atau dicabut,” terangnya.

Pihaknya pun sangat berhati-hati saat mengambil tindakan untuk mengurangi dampak kerusakan lebih lanjut.

“Tidak sembarangan untuk kita tindakanjutil. Jika gigi anak masih bisa ditambal kita lakukan jika dicabut perlu beberapa kali pemeriksaan karena cepat dicabut akan mempengaruhi susunan gigi yang berikutnya. Jika ada karies gigi, kita lihat dulu umurnya berapa tahun, apakah bisa dicabut atau tidak agar gigi tetapnya tidak terpengaruh. Jadi kita tidak gampang nyabut karena salah cabut bisa mempengaruhi kesehatan gigi yang lain,” paparnya. (sis)